Memilikimu Kemarin
Menaiki kereta pukul 9 pagi,
Bergegas menempuh perjalanan
Melewati aroma rumput yang masih bersatu dengan embun
Dan...Teringat olehmu
Ya, dengan jelas aku menciptakan ilusi atas dirimu
Yang berdiri bersandar pada pintu kaca kereta
Seraya tersenyum bercerita panjang
Ya, Aku memilikimu kemarin dengan segenap pelukanmu
Pelukan pada udara dingin yang berteman dengan hamparan malam
Dan perlahan kau meneteskan secangkir air mata pada perpisahan malam itu
Bersaksi pada kedua cangkir pesanan manis yang kita pilih
Bahwa kita harus mencoba mematahkan hati kita masing-masing
Perlahan kutatap ke arah jendela dimana ribuan titik-titik lampu kendaraan memainkan perannya
Menghiasi malam dengan keindahan yang tak sesuai dengan pintamu
Kulukis semua guratan maksudmu pada langit-langit kedai itu
Namun sempurna tak kupahami
Seperti menunggu jawaban sang kayu yang telah terbakar menjadi
Bergumam menirukan ringkasan puisi Sapardi tentang sederhana
Ternyata kayu ini terbakar saat dedaunan terlalu rindang kutanam
Sedang matamu mengisyaratkan kering kerontang
Lalu kututup jamuan pesta perpisahan
Dengan cangkir dingin yang disajikan bersama tatapan kosongmu
Aku bukan pengabul permintaan
Tapi sepertinya yang kau pinta bisa kutunaikan
Dengan segala himpunan kas rasa yang telah kutabung
Telah menuju limit nol untuk segala perpisahan yang kau pinta
Dan akhir kata kau menuju pada langkah terakhir dengan berusaha tersenyum padaku
Seraya membelah jalanan malam itu
Aku tak tau apa pikirmu
Yang jelas memilikimu kemarin laksana menabung atas rasa yang melebur bersama tanya
Sekian dan Terima Kasih kau yang kumiliki kemarin