Asal Kopi


Asal Kopi   

Membuka jendela pagi ini benar-benar menyejukkan selepas patah hati paling menyakitkan. Menyeduh kopi sachetan terasa pahit berkepanjangan. Di sudut utara kota Surabaya aku menjelma menjadi salah satu dari beberapa orang yang sedang patah hati. Sejenak pernah berpikir apakah patah hati hanya ada di Indonesia saja, atau bahkan di Negara Swiss yang konon disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Entahlah, pagi ini begitu berat kepala untuk menafsirkan segala perihal patah hati. Duduk di meja makan sendirian sambil mengaduk-aduk kopi yang sudah dingin tatapanku seakan kosong namun pikiranku terlalu ramai dengan hal-hal yang tak bisa kutafsirkan. Badanku yang selama ini kulatih dengan beladiri seakan lemah gemulai tak berdaya, bukan karena hantaman keras di wajah ataupun kuncian pada pergelangan tangan ataupun kaki. Kata-kata perpisahan darinya lebih menohok diafragma, menjadikan sesak setiap mengingatnya.
            Kopi secangkir ini tak habis aku minum, bahkan serasa mengasihaniku dengantak membiarkanku menelan pahit lainnya lagi. Pagi itu dengan sedikit parfum menempel dan rutinitas pagi, kucoba menuju ke jalan semarang, tempat para pengumpul buku lama yang direlakan pemiliknya, sejenak itu pula pemikiranku berkata “mungkin aku harusnya dikumpulkan bersama ribuan buku berdebu ini, sebab aku telah direlakan lepas”. Tertawa meringis kubuang jauh-jauh pemikiran “sesat” itu lalu mulai menyusuri kios-kios satu persatu siapa tau menemukan sesuatu yang menarik. Aku tidak memiliki tujuan buku apa yang ingin aku beli, namun terkadang seseorang membutuhkan waktu menyendiri bukan?. Tempat ini selalu menyediakan tempat untukku sejenak untuk menemani waktu kesendirian, melupakan rutinitas menyakitkanyang telah terjadi belakangan. Oh Tuhan selalu menyediakan tempat-tempat bagi ciptaannya yang sedang ingin meneduhkan diri, dari teriknya hujatan atau derasnya kesedihan.
            Oke, ini kisahku, seorang lelaki bujang dengan sedikit keriangan, sedikit sahabat, sedikit amarah, sedikit tenaga, sedikit puitis, sedikit demi sedikit mencoba berubah. Memiliki tinggi 175 cm dengan sorot tatapan sendu, rambut bergelombang dengan potongan rapi, ditambah janggut yang senantiasa menempel melengkapi perjuangan dengan motor supra hadiah atas sedikit keberhasilan melewati beberapa tahun pendidikan. Terasa sesak memang menceritakan tentang kenangan pahit, tapi tenang saja, sebelum menyeduh kopi kau perlu menyempatkan diri agar kau tahu sisi pahit mana yang akan mewakili perasaanmu.
            Begitu pula dalam memilih kopi favoritmu, benamkan pada pikiranmu “apa itu kopi?”. Kopi mau dengan definisi apapun tetaplah yang kau temukan ialah rasa pahit, tak bisa dengan seenak jidat kau ganti definisi bahwa kopi itu rasanya seperti rasa sari pati tebu yang dijual di pinggir jalan. Seperti itu pula ketika kita membicarakan tentang patah hati, berbagai macam prosesnya, berbagai macam penyebabnya, yang kau tahu patah hati ialah pahit. Membuat rangkaian proses pernafasanmu tiba-tiba menjadi sesak, seakan celah-celah pernafasanmu tertutupi oleh berbagai macam asap penyesalan atau paru-parumu basah oleh hujan kesedihan. Tenanglah semua itu sama, jadi kau seharusnya tahu, kopi itu apa dan patah hati itu apa.