Tak Terbayangkan
Tak Terbayangkan
7 April 2018
Tak terbayangkan nantinya aku harus menghadiri pesta tanpamu
Tak terbayangkan nantinya selepas aku membuka mata hanya dinding kusam yang kutampak
Tak terbayangkan nantinya aku harus menyisihkan waktuku duduk di sebelah pusaramu
Tak terbayangkan nantinya aku harus menghentikan untuk mengeluh padamu
Tak terbayangkan nantinya aku harus beberapaka kali diam termeung menatap rintik derasnya hujan mengenangmu
Tak terbayangkan nantinya memijatmu selepas petang akan sangat kurindukan
Tak terbayangkan nantinya di hari pernikahanku, dimana aku menggenggam tangan bapaknya, mengucap janji suci, ternyata kau tak di sana
Tak terbayangkan nantinya pelukan seorang yang paling masyhur harus hilang
Tak terbayangkan yang artinya aku tidak akan bisa menjadikannya nyata walau dalam impianku
Tak bisa menjadikannya utuh ketika aku sangtlah butuh
Tak bisa memekarkan rasa atas suara tegas dar kerongkongan yang mulai renta itu
Tak bisa lagi tersenyum simpul atas gurauan pelepas penat
Tak bisa lagi mencium tanganmu
Dan semua yang tak terbayangkan kini menjadi kenyataan
Dengan kecupan mesra pada kening diakhir perjumpaan
Perasaan dingin dan perih seolah bersekongkol mencabik area pernafasan
Membutakanku untuk tenggelam dalam jeritan air mata
7 April 2018
Tak terbayangkan nantinya aku harus menghadiri pesta tanpamu
Tak terbayangkan nantinya selepas aku membuka mata hanya dinding kusam yang kutampak
Tak terbayangkan nantinya aku harus menyisihkan waktuku duduk di sebelah pusaramu
Tak terbayangkan nantinya aku harus menghentikan untuk mengeluh padamu
Tak terbayangkan nantinya aku harus beberapaka kali diam termeung menatap rintik derasnya hujan mengenangmu
Tak terbayangkan nantinya memijatmu selepas petang akan sangat kurindukan
Tak terbayangkan nantinya di hari pernikahanku, dimana aku menggenggam tangan bapaknya, mengucap janji suci, ternyata kau tak di sana
Tak terbayangkan nantinya pelukan seorang yang paling masyhur harus hilang
Tak terbayangkan yang artinya aku tidak akan bisa menjadikannya nyata walau dalam impianku
Tak bisa menjadikannya utuh ketika aku sangtlah butuh
Tak bisa memekarkan rasa atas suara tegas dar kerongkongan yang mulai renta itu
Tak bisa lagi tersenyum simpul atas gurauan pelepas penat
Tak bisa lagi mencium tanganmu
Dan semua yang tak terbayangkan kini menjadi kenyataan
Dengan kecupan mesra pada kening diakhir perjumpaan
Perasaan dingin dan perih seolah bersekongkol mencabik area pernafasan
Membutakanku untuk tenggelam dalam jeritan air mata