Rindu pada Amuk

Amuk adalah dirimu yang kusangka dulu
Sedangkan rindu padamu kini adalah rutinitasku

Takut adalah dirimu yang kujauhi dulu
Sedangkan kini jumpa yang kuharap namun tak mampu

Benci adalah dirimu yang aku rasakan dulu
Sedangkan kesedihan kini adalah raut wajah mengingatmu

Tegas adalah dirimu yang aku tak suka
Sedangkan kini atas ketegasan itu aku belajar darimu

Seiring berjalannya waktu aku melihatmu
Melihat tabahmu mengukir batu dengan tetesan air

Seiring berjalannya waktu aku mengamatimu
Dengan tundukmu pada ilahi bagai dedaunan yang menyampaikan salam pada setiap pagi

Seiring berjalannya waktu aku mendengarmu
Mendengar kebaikanmu seperti hujan deras yang bergemuruh memberitakan kebaikanmu

Dan dirimu seorang kaisar yang tak ragu menumpahkan tetesan matanya
Seraya mengangkat tangan untuk berdoa

Kau adalah raja yang tak sungkan membumi
Dan anak manusia yang tak sungkan untuk berdiri tegak



Bandung, 11 Juli 2018