Kicau burung, Sekotak Rindu, dan Rintik Hujan

Pernah aku menjadi seorang pengembara. meninggalkan sisa-sisa kepahitan yang pernah menjatuhkanku hingga terjerembab penuh duka. Mengembara bukanlah perihal melupakan, namun lebih dari itu sebuah pengembaraan ialah bertarung dengan kerasnya dunia, hingga saat pulang nanti punggung kita lebih teduh untuk menjadi tempat berlabuh.

Memutuskan mengembara bukanlah hal mudah. konon, hanya ada dua pejuang yang berhasil mengembara. Pertama merupakan pejuang dengan keberanian, matanya seakan berapi-api ketika melihat derasnya ombak, tubuhnya seakan memiliki ribuan pasukan yang menggerakkannya dan aliran darahnya 100 kali lipat mengalir dengan cepat. Kedua ialah pejuang yang memiliki luka terdalam, hati terluka, duka yang teramat, dan kesedihan yang merapuhkan. pengembaraannya hanya bertujuan meinggalkan sekotak penat, melupakan duka, seraya berharap esok atau lusa, waktu dengan baik hati menghapusnya.

Seorang pengembara pada batasnya memiliki sebuah kelelahan dalam perjalanannya. Saat melepaskan penat, Ia akan lebih mudah mendengar sayup-sayup aliran sungai lebih jelas, melihat elok bunga sedikit lebih berwarna, dan tahukah kalian seorang pengembara bahkan bisa tersenyum dengan kicauan burung yang bersautan di atap plafon masjid. Sungguh ketenangan ada bersama orang yang kelelahan dan menyisihkan waktunya untuk berdiam.

Pengembara pun akan memiliki teman baru, suasana baru, sayup-sayup peluk yang baru yang didapatkan dengan tidak mudah. Bahkan seorang pengembara bisa jadi berubah menjadi manusia paling bodoh. dengan rintik hujan Ia angggap selimut hangat, suara bising hutan beton perkotaan Ia jadikan orkestra merdu yang menemaninya menyeruput secangkir kopi. dan pada kicau burung, sekotak rindu dan rintik hujanIa akan memupuk rindunya sambil melanjutkan perjalanan

Bersambung..........