Ketika Kau Adalah yang Membuatku Tercekat
Kata-kata yang ingin kuhaturkan mungkin satu dari sekian milyar kata yang bertebaran
Bait-bait yang senantiasa aku tulis, sekejap tercekat
Tepat berhenti tanpa ada pelukan hangat dan obrolan dekat
Bagai tertikam pena yang menyayat perlahan
Aku dihujani diksi perpisahan
Pada sebuah kegelapan, dihimpit sesak kesibukan perkotaan, aku menitihkan air mata
Bahwa berjalan kedepan dengan kenyataan bahwa dengan ketidakhadirmu
Menegaskan bahwa malam itu petir laksana bukan sebuah hal paling kejam
Terhimpit peru-peru ini oleh asap kerinduan
Tak bisa mendampingimu mengontaminasikanku dengan deru deru luka
Uuuhhh.....
Selayaknya satu kata yang tak bisa kuberaikan
Mengunci rapat-rapat kata-kata lain
Hanya satu yg bisa menjelaskannya
Bukan oleh cuap mulut
Namun rayap air yang keluar dari kantung tipis mata
Malam itu ratap berhasil mengalahkanku
Dalam sepelemparan batu, akhirnya aku mengantarmu pada pusaramu
Mengupas tuntas irisan kesedihan
Mencari dimana titik terang terbaik dimana aku menemukan reda dalam dada
Memandangmu untuk yang terakhir, lalu aku tau bahwa ratap adalah asupan setan
Merayu diri sendiri agar tak larut sungguh hal yang paling berat
Menahan arwah agar tak kalut dimakan nestapa
Pagi itu sungguh dingin ragamu
sungguh teduh matamu
sungguh rindu pelukanmu
menjadi kuat sungguh saat itu ialah saat paling kubenci
bahwa aku ingin menangis namun mengingat pesanmu dan adik-adikku, aku harus kuat
Terima kasih untuk sejuta ketegasan yang kau ajarkan, dan lain hal yang tak bisa kusebutkan
bahwa bersamamu, adalah keromantisan tersendiri
Kini, Ramadhan tak berjumpa denganmu lagi
Ditiap sore suara berat itu tak akan lagi kudengar lantunannya
Sambutan ramah menjelang buka tak lagi memeluk kita
Titah berjamaah tak lagi berkumandang
Dan satu hal dari Ramdhan nanti adalah ujungnya
Dimana aku harus sengaja teringat dengan dua orang yang pernah memelukku
Satu Hal yang pasti harus kurawat ialah, bahwa justru terkadang kita menemukan banyak dari suatu kehilangan